Sejarah Desa Adat Baturning
<p style="text-align: justify;">   Sejarah awal Desa Baturning belum terdokumentasi secara lengkap, namun keberadaan prasasti yang ditulis pada tahun Saka 1925 (2003 Masehi) menjadi sumber informasi penting mengenai latar belakang spiritual dan genealogis desa tersebut. Prasasti ini terdiri atas dua bentuk naskah: Lempeng tembaga yang ditulis oleh Dewa Putu Gingsir dari Cemagi-Mengwi, serta salinan lontar yang dibuat oleh I Made Pasek dari Negara-Jembrana. Menyadari potensi hilangnya naskah asli, Balai Arkeologi Denpasar melakukan kajian dan dokumentasi ulang pada tahun 2013, termasuk menerbitkan buku pembacaan prasasti sebagai upaya pelestarian dan edukasi kebudayaan.</p> <p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pura Penataran Baturning 1.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align: justify;">   Secara tekstual, prasasti menggunakan aksara Bali dan bahasa campuran Kawi-Bali, memuat silsilah serta perjalanan spiritual tokoh lokal bernama Bendesa Aban Baturning. Tokoh ini digambarkan memiliki keahlian dalam arsitektur tradisional, yang disebut berakar pada ajaran Bhagawan Wiswakarma, figur mitologis yang sering dikaitkan dengan ilmu bangunan suci dalam tradisi Hindu-Bali. Narasi genealogis dalam prasasti juga menyebut beberapa tokoh kosmologis seperti Bhatara Sangkara, Bhatara Wisnu, dan Bhatara Siwa Kancana sebagai representasi pengetahuan, kekuatan spiritual, dan otoritas keagamaan.</p> <p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pura Penataran Baturning.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align: justify;">   Selain menjelaskan silsilah, prasasti ini mencatat migrasi keluarga Bendesa ke sejumlah wilayah di Bali, termasuk Badung dan kawasan Gunung Batur. Dalam proses migrasi tersebut, kelompok ini dikisahkan mendirikan tempat suci seperti Jero Majalangu di Gandamayu dan Batu Lumbang, serta membentuk situs pemujaan yang merefleksikan ajaran Silayukti serta unsur sinkretik Siwa-Buddha. Kisah tokoh Dewi Sangka dan Sangkora juga muncul dalam teks, menyoroti tema cinta, pengabdian, dan perpindahan ilmu spiritual serta keterampilan arsitektural lintas generasi.</p> <p style="text-align: justify;">   Keberadaan prasasti Bendesa Aban Baturning di Pura Dadia Agung menjadikan teks ini sebagai dokumen penting yang memetakan asal-usul spiritual dan identitas arsitektur desa adat. Melalui narasi tokoh, pengaruh ajaran keagamaan, dan aktivitas pendirian situs suci, prasasti ini memposisikan Desa Baturning sebagai ruang sakral yang berkembang dari warisan leluhur, sekaligus berfungsi sebagai pusat transmisi nilai-nilai tradisional, praktik arsitektur, dan pengetahuan lokal. Dalam konteks keberlanjutan budaya, prasasti tersebut turut memperkuat fungsi desa sebagai entitas pelestari dan transformator tradisi di tengah dinamika Bali kontemporer.</p>
15 Oct 2025