PuraDalem Gedong
<p style="text-align: justify;">   Selanjutnya dekat dengan areal keberadaan Pura Dalem Pegedangan, terdapat sebuah Pura bernama Pura Dalem Gedong. Pura Dalem Gedong merupakan sebuah situs suci yang didirikan sekitar abad ke-17 oleh I Gusti Anglurah Mambal, memiliki keterkaitan erat dengan Pura Dalem Cungkub di Banjar Adat Mambal Kelod. Pura ini mengalami upacara besar dan pemugaran pada tahun 1942 dan saat ini diempon oleh 88 Kepala Keluarga (KK). Keunikan komunitas pengempon ini adalah mereka merupakan warga Triwangsa dan Catur Warna, yang terdiri dari pengungsi atau pendatang dari berbagai daerah, mencerminkan persatuan dari berbagai latar belakang. Kelompok-kelompok warih yang menjadi pengempon antara lain Warih Bendesa (17 KK) dari Wangaya Kelod, Warih Pradewa dari Kalanganyar/Kaliungu, Warih Pragusti dari Peti Tenget, Klabang Muding (8 KK), dan Warih Brahmana dari daerah Angantaka.</p> <p style="text-align: justify;">   Pada masa pembangunannya, Pura Dalem Gedong didirikan sebagai simbol persatuan, suka duka, dan kebersamaan di antara sesama pendatang. Selain itu, pura ini dipercaya pernah berfungsi sebagai pasraman (pusat pelatihan spiritual) dan merupakan tempat bersemayamnya taksu pengobatan tradisional (Balian/Dukun). Meskipun saat ini belum ada generasi yang melanjutkan tradisi pengobatan tersebut, kepercayaan terhadap taksu pura tetap kuat. Secara sosial, warga pengempon Pura Dalem Gedong dipercaya memiliki peran penting di masyarakat Mambal, karena mereka selalu mendapat tugas sebagai pengrajeg atau tokoh yang dituakan di berbagai pura dan dalam kehidupan sosial di kalangan masyarakat Mambal.</p> <p style="text-align: justify;">   Struktur bangunan utama (Pelinggih) di Pura Dalem Gedong mencerminkan fungsinya sebagai Pura Pemersatu Triwangsa/Catur Warna dengan memposisikan diri sama tinggi dan sama rendah. Pelinggih-pelinggih tersebut terdiri dari Gedong Pelinggih Kawitan sebagai tempat pemujaan roh suci para leluhur klen Dalem Gedong, Pelinggih Ratu Ngurah yang dikhususkan untuk memuja leluhur wanita (Ibu), Pelinggih Ratu Nyoman untuk memu-ja Anglurah Agung (manifestasi penjaga pura atau penguasa wilayah), Anglurah, Pepelik, dan Pasimpangan Dalem Peed. Pura ini menerapkan konsep pembagian ruang sakral tradisional Tri Mandala, yang membagi kompleks pura menjadi tiga zona utama berdasarkan tingkat kesuciannya: Nista Mandala (Jaba Sisi) sebagai bagian terluar atau halaman luar pura yang berfungsi sebagai tempat persiapan dan kegiatan pendukung yang bersifat tidak sakral; Madya Mandala (Jaba Tengah) sebagai bagian tengah pura yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara atau tempat berkumpul sebelum memasuki area utama; serta Utamaning Mandala (Jeroan) sebagai bagian paling suci dari pura, tempat pelinggih-pelinggih utama berada dan puncak persembahyangan dilaksanakan.</p> <p style="text-align: justify;">   Apabila dikaji secara mendalam, terdapat hipotesis Dalam konteks ini, kata “Dalem” secara inheren terhubung dengan gelar raja atau penguasa tertinggi di Bali, seperti Dalem Waturenggong atau Dalem Samprangan. Oleh karena itu, penamaan pura dengan “Dalem,” khususnya Pura Dalem Pagedangan yang terkait dengan Warih Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan, bukan sekadar identitas, melainkan penanda legitimasi dan afiliasi politik yang mendalam.</p> <p style="text-align: justify;">  Pura dalam banyak kasus di Bali, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kekuasaan sosial dan politik. Pendirian pura oleh penguasa atau klan tertentu seringkali menjadi manifestasi pengukuhan hegemoni, penanda wilayah kekuasaan, atau bahkan sarana untuk mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat di bawah satu payung spiritual-politik. Pura Dalem Gedong, yang didirikan oleh I Gusti Anglurah Mambal sebagai simbol persatuan di antara para pendatang, secara jelas mendukung argumen ini. Pura ini mencerminkan dinamika kekuasaan dan demografi, menjadikannya entitas sosial-politik yang multifungsi.</p> <p style="text-align: justify;">   Perbedaan fungsi Pura Dalem Pagedangan dan Pura Dalem Gedong dari Pura Dalem Tri Kahyangan yang umumnya diasosiasikan dengan pemujaan Dewa Siwa dan ritual kematian, menjadi kunci dalam memahami hipotesis ini. Kedua pura tersebut secara eksplisit tidak difungsikan untuk prosesi ritual kematian, menunjukkan adanya variasi lokal dalam interpretasi dan praktik Pura Dalem. Dengan demikian, merujuk “Dalem” pada penguasa (seperti Dalem Pagedangan atau I Gusti Anglurah Mambal) memberikan penjelasan yang koheren untuk perbedaan fungsional ini. Pura-pura tersebut kemungkinan besar didirikan untuk memuliakan leluhur penguasa atau sebagai pusat spiritual bagi klan yang berafiliasi dengan mereka.</p> <p style="text-align: justify;">   Meskipun bukti tertulis mungkin terbatas, tradisi lisan dan memori kolektif masyarakat seringkali menjadi sumber informasi penting mengenai asal-usul dan fungsi pura. Keterkaitan Pura Dalem Gedong dengan I Gusti Anglurah Mambal, serta fungsinya sebagai “pasraman” (pusat pelatihan spiritual) dan tempat bersemayamnya “taksu pengobatan tradisional”, menunjukkan bahwa pura ini memiliki peran yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tempat ritual kematian. Ini adalah pusat komunitas yang multifungsi, terkait erat dengan identitas klan dan kekuasaan lokal.</p> <p style="text-align: justify;">   Dari sudut pandang ilmiah, hipotesis ini memerlukan bukti empiris yang lebih kokoh, seperti analisis epigrafis, arkeologi, filologi, dan genealogi untuk menguatkan klaim tentang pendiri dan fungsi awal pura. Penting juga untuk memahami variabilitas dan dinamika lokal di Bali, menghindari generalisasi yang berlebihan, dan mempertimbangkan kemungkinan pergeseran fungsi pura seiring waktu. Pendekatan interdisipliner, yang menggabungkan antropologi, sejarah, arkeologi, filologi, dan sosiologi agama, akan sangat bermanfaat untuk mengaitkan temuan ini dengan kerangka teoritis yang lebih luas, seperti teori legitimasi kekuasaan atau konstruksi memori kolektif. Dengan demikian, studi tentang Pura Dalem Pagedangan dan Pura Dalem Gedong tidak hanya akan memperkaya pemahaman kita tentang nuansa dalam sistem kepercayaan dan praktik keagamaan di Bali, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap antropologi agama secara umum.</p>
27 Oct 2025