Pura Dalem Kedewatan, Pura Desa, Dan Pura Puseh
<p style="text-align: justify;">   Pada awalnya, di area pura ini ditemukan kerangka tulang belulang manusia, sehingga masyarakat Desa Adat Semana mengidentifikasikan situs ini sebagai Pura Dalem. Hal ini juga didukung oleh keberadaan pohon kepuh di sekitar pura, yang kerap dikaitkan dengan situs pemakaman dalam struktur Tri Kahyangan di Bali. Namun, hingga saat ini identitas tulang belulang tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah karena tidak ada bukti dokumentasi atau hasil kajian arkeologis yang mendukung. Keberadaan kerangka manusia dan pohon kepuh menjadi dasar pertimbangan masyarakat dalam menentukan fungsi spiritual dan posisi pura di dalam lanskap adat Semana. Interpretasi mengenai status pura ini masih beragam, mengingat belum adanya penelitian yang memadai terkait sejarah maupun asal-usul kerangka tersebut. Dengan demikian, pengelompokan pura sebagai Pura Dalem di Desa Semana bersifat tentatif dan lebih didasarkan pada pengetahuan lokal serta kebiasaan warga, bukan atas dasar bukti empiris atau kajian historis yang resmi. Seiring perjalanan waktu dan dinamika sosial masyarakat, pura ini akhirnya diakui dan difungsikan sebagai Pura Desa sekaligus Pura Puseh oleh warga Semana. Penetapan tersebut tidak hanya menegaskan peran pura dalam struktur spiritual desa, tetapi juga memperkuat identitas kolektif melalui tradisi dan praktik keagamaan yang terus diwariskan lintas generasi. Melalui keputusan bersama, masyarakat menyatukan keyakinan dan kebiasaan lokal ke dalam struktur Tri Kahyangan, sehingga pura ini kini menjadi pusat penting aktivitas adat, ritus, dan pemujaan di Desa Semana.</p> <p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pura Kedewatan.jpg" weigth="100px" /> <img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pura Kedewatan 1.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align: justify;">   Di area pura ini ditemukan sebuah artefak yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai representasi lingga-yoni, simbol dualitas dan kesatuan dalam kosmologi Hindu. Meskipun riwayat dan asal-usul artefak tersebut belum sepenuhnya terungkap, keberadaannya memberi indikasi kuat mengenai jejak historis praktik pemujaan terhadap konsep Siwa pada masa lampau. Selain artefak lingga-yoni ditemukan juga keberadaan arca Ganesha saat melakukan renovasi pura. Penafsiran simbolik ini mencerminkan kemungkinan keterhubungan situs tersebut dengan tradisi keagamaan yang lebih tua, meskipun diperlukan kajian arkeologis dan historis lebih lanjut untuk mengonfirmasi latar belakangnya secara ilmiah.</p> <p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pura Kedewatan 2.jpg" weigth="100px" /></p>
13 Oct 2025