Perekonomian Desa Umahanyar
<p style="text-align: justify;">   Salah satu profesi yang banyak ditekuni oleh masyarakat Mambal adalah sebagai pengrajin atap ijuk. Terdapat dua desa adat yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengrajin atap ijuk, yaitu Desa Adat Baturning dan Desa Adat Umahanyar. Berdasarkan penuturan Bapak I Wayan Sutama, seorang pengrajin atap ijuk, keahlian ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak sekitar tahun 1940-an, dan saat ini telah mencapai generasi keempat. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan bangunan “Piasan” di Pura Desa Umahanyar yang dikerjakan oleh leluhurnya (kumpi). Hingga saat ini, atap bangunan Piasan tersebut telah direnovasi sebanyak tiga kali oleh anak dan cucunya. Fakta ini menunjukkan proses regenerasi keterampilan yang sangat baik dan berkelanjutan, dimana orang tua secara langsung menularkan keahliannya kepada anak dan cucu mereka. Adanya kolaborasi yang harmonis antara bapak, anak, dan cucu dalam menyelesaikan pembangunan pura merupakan bentuk pengabdian yang mulia untuk melestarikan seni budaya adiluhung.</p> <p style="text-align: justify;">   Keterampilan dalam pembuatan atap ijuk diawali dengan pembangunan struktur tempat suci, seperti Pura dan Merajan. Proses ini meliputi pengerjaan fondasi dasar, perancangan konstruksi kayu, dan pemasangan atap menggunakan ijuk oleh seorang undagi. Seorang undagi memiliki kompetensi multidisiplin, mencakup keahlian dalam pekerjaan batu padas, perancangan kayu, pembuatan ukiran, serta pemasangan atap ijuk. Para undagi sangat terbuka untuk memberikan edukasi kepada masyarakat lain yang berminat untuk berpartisipasi dalam pembangunan tempat suci. Mereka menunjukkan antusiasme dalam bekerja sebagai bentuk pengabdian (ngayah) sekaligus kesempatan untuk memperoleh keahlian yang dapat menopang kehidupan di masa mendatang.</p> <p style="text-align: justify;">   Masyarakat memiliki kebebasan untuk memilih spesialisasi keahlian yang diminati, seperti tukang asab, tukang kayu, tukang ukir, atau tukang raab (atap) ijuk. Seluruh keterampilan ini memerlukan ketekunan dan dedikasi tinggi guna mencapai tingkat kemahiran yang optimal dalam bidangnya. Masyarakat Desa Umahanyar secara kolektif menekuni profesi undagi, disebabkan oleh ketiadaan lahan pertanian yang dapat digarap. Kondisi ini erat kaitannya dengan latar belakang historis Desa Adat Umahanyar sebagai komunitas pendatang yang berasal dari wilayah Mengwi. Dahulu, Kerajaan Mengwi mengutus para punggawa perang untuk menduduki area ini guna mengantisipasi serangan dari Raja Gianyar. Mereka diberikan hak atas tanah tempat tinggal dan lahan pertanian, namun penawaran lahan pertanian ditolak karena seluruh kebutuhan hidup mereka telah ditanggung oleh kerajaan. Lahan pertanian di sekitar Desa Adat Umahanyar dimiliki oleh warga lain, termasuk pihak di luar wilayah Mambal. Oleh karena itu, masyarakat hanya memiliki tanah pekarangan untuk tempat tinggal, dan pasokan pangan diperoleh dari luar desa. Sebagai undagi, mereka menerima upah dalam bentuk bahan pangan seperti beras, ketela, dan jagung dari masyarakat yang menggunakan jasa mereka. Permintaan untuk membangun tempat suci seringkali datang dari daerah yang jauh, sehingga mengharuskan mereka menginap selama beberapa bulan di lokasi kerja. Aktivitas merantau ke luar daerah merupakan praktik yang lazim dilakukan untuk memperoleh penghasilan guna menopang kehidupan keluarga di rumah.</p> <p style="text-align: justify;">   Di antara empat keterampilan undagi tersebut, keahlian dalam pembuatan atap ijuk dianggap sebagai pekerjaan yang paling mudah dengan hasil yang memuaskan. Keterampilan ini tidak memerlukan pembelajaran khusus yang intensif. Sebaliknya, untuk pemasangan batu bata dan batu padas, perancangan struktur kayu, serta pengukiran ornamen, diperlukan proses pembelajaran mendalam dan waktu yang cukup lama untuk mencapai tingkat dengan kemahiran tinggi. Kemampuan ini juga menuntut bakat yang kuat dan muncul dari motivasi internal yang mendalam. Berbeda dengan keterampilan atap ijuk yang tidak mensyaratkan keahlian khusus, melainkan cukup mengandalkan keterampilan praktis dan kekuatan fisik, tanpa memerlukan proses belajar yang panjang dan spesifik.</p> <p style="text-align: justify;">   Akibatnya, masyarakat Umahanyar cenderung lebih banyak memilih profesi sebagai tukang atap ijuk karena kemudahan dalam pengerjaan dan hasil yang optimal. Permintaan untuk pembuatan atap ijuk lebih tinggi dibandingkan pekerjaan lain, mengingat reputasi Umahanyar sebagai pusat pengrajin atap ijuk. Sementara itu, pekerjaan pemasangan batu asab, perancangan kayu, dan pengukiran ornamen tidak berkelanjutan karena minimnya regenerasi. Generasi muda lebih banyak menekuni profesi sebagai tukang atap (raab) ijuk. Pada akhirnya, Desa Adat Umahanyar dikenal sebagai pusat perajin atap ijuk yang melayani berbagai tempat suci di Bali dan luar Bali. Fenomena ini juga memicu munculnya banyak pemborong atap ijuk yang melibatkan masyarakat Umahanyar sebagai tenaga kerja utama.</p> <p style="text-align: justify;">   Kolaborasi antar masyarakat Umahanyar terjalin sangat erat, tidak hanya terkait dengan aktivitas adat dan keagamaan, tetapi juga dalam pekerjaan yang ditekuni. Individu yang memiliki kapabilitas dan modal lebih tinggi akan berperan sebagai pemborong, mengorganisasi rekan-rekan mereka untuk mengerjakan proyek-proyek besar. Kerja sama antar pemborong (pengepul) berlangsung dengan baik, tanpa adanya persaingan harga dalam menerima suatu pekerjaan. Mereka senantiasa berkolaborasi, baik dalam hal tenaga kerja maupun material yang digunakan. Kesepakatan harga telah ditetapkan dan dipatuhi, sehingga konsumen tidak dapat melakukan penawaran. Solidaritas yang kuat ini dilandasi oleh semangat kekeluargaan yang tinggi, serta perasaan senasib sepenanggungan sebagai pendatang dari daerah lain yang memiliki ikatan darah. Mereka juga meyakini bahwa setiap individu memiliki nasib dan rezeki masing-masing, sehingga tidak ada sifat iri hati dan saling mendukung dalam setiap pekerjaan yang ada.</p> <p style="text-align: justify;">   Keahlian dalam pengerjaan atap ijuk di Umahanyar juga diterapkan oleh masyarakat di Baturning. Proses ini telah berlangsung lama dan kini telah mencapai generasi ketiga. Bapak I Made Arnata, seorang pekerja atap ijuk, menjelaskan bahwa profesi sebagai tukang raab ijuk ditekuni oleh masyarakat, khususnya di Desa Baturning, karena ketiadaan lahan pertanian untuk digarap. Berbagai peralatan esensial yang digunakan untuk membuat atap ijuk meliputi kampak, timpas, sangket, talenan kayu, dan juan. Kapak berfungsi untuk memotong ijuk, membelah bambu, serta membuat pacek. Timpas digunakan untuk memotong ijuk, membuat tinjeh, dan pacek. Sangket berfungsi sebagai penggantung ijuk yang siap di-besbes, sementara talenan kayu digunakan sebagai alas untuk memotong ijuk. Juan dimanfaatkan untuk melemparkan ikatan ijuk ke atas. Profesi ini dipelopori oleh seorang undagi terkemuka, Bapak I Ketut Luwur, yang sejak tahun 1950-an telah aktif dalam pembangunan tempattempat suci di beberapa desa di Mambal dan sekitarnya, dengan seluruh bangunan suci tersebut menggunakan ijuk sebagai material atap utama.</p> <p style="text-align: justify;">   Penggunaan bahan ijuk sebagai atap didasari oleh berbagai pertimbangan, selain kualitasnya yang dapat bertahan hingga 40 tahun, juga karena bangunan suci yang beratap ijuk diyakini memiliki taksu (keindahan spiritual) yang sangat kuat. Secara visual, sebuah bangunan suci dengan bentuk dasar yang unik, dihiasi ornamen klasik dan beratap ijuk, memancarkan aura yang sangat sakral dan bertaksu.</p> <p style="text-align: justify;">   Hasil bangunan yang dikerjakan oleh Bapak Ketut Luwur memiliki identitas khas, terutama dalam pengerjaan atap dengan bahan ijuk, yang dikenal karena estetika dan kualitasnya yang terjamin. Reputasi pengerjaan atap ijuk ini semakin meluas di luar Desa Mambal, sehingga pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah. Untuk memenuhi tingginya permintaan tersebut, Bapak Ketut Luwur mengajak warga di banjarnya untuk turut serta menekuni pekerjaan ini. Banyak anggota masyarakat yang kemudian terlibat dalam pengerjaan atap ijuk sebagai upaya untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga mereka.</p> <p style="text-align: justify;">   Pengerjaan atap ijuk memerlukan proses yang cukup panjang, diawali dengan pencarian bahan ijuk yang masih terdapat pada pohon enau. Di Bali, pohon enau banyak tumbuh di daerah Buleleng, Bangli, dan Karangasem, baik di kebun maupun di tebing-tebing sungai. Untuk mendapatkan bahan ijuk, para tukang atap dari Desa Mambal mencari ijuk langsung pada pohon enau di desa-desa tersebut. Dalam proses pencarian ini, mereka kerap menginap (medunungan) di desa-desa seperti Sepang, Busungbiu (Buleleng), Pujungan (Tabanan), serta Kintamani dan Suter (Bangli). Untuk memperoleh ijuk dalam jumlah yang memadai, mereka menginap selama dua minggu guna menguliti ijuk yang masih menempel pada pohon enau.</p> <p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pengerajin Ijuk.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align: justify;">   Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pekerjaan ini tidak terlalu banyak, biasanya antara 4 hingga 5 orang, dengan membawa bekal secukupnya. Mereka mendatangi para pemilik pohon enau di kebun dan melakukan negosiasi harga ijuk yang masih ada di pohon, disesuaikan dengan kuantitas dan usia ijuk. Perhitungan harga dapat dilakukan dengan berbagai cara, ada yang disepakati per pohon, dan ada pula yang diborong untuk beberapa pohon dalam satu kebun. Ketentuan ini sangat bergantung pada kualitas ijuk yang masih ada di pohon, serta usia pohon enau. Pohon enau yang sudah tua akan menghasilkan ijuk dalam jumlah cukup banyak dan kualitasnya sangat baik karena umurnya yang matang. Selain itu, kualitas ijuk juga dapat ditentukan berdasarkan tinggi rendahnya pohon enau.</p> <p style="text-align: justify;">   Ijuk yang diperoleh dari pangkal pohon akan memiliki kualitas yang sangat berbeda dengan ijuk yang ada di ujung pohon, karena perbedaan usia ijuk. Ijuk yang telah dikuliti kemudian digulung dengan rapi untuk memudahkan pengangkutan, baik dari kebun ke jalan maupun saat diangkut menggunakan mobil. Proses pengulitan ijuk juga harus mempertimbangkan waktu yang tepat dan memilih musim kemarau agar ijuk tidak basah. Setelah mendapatkan ijuk sesuai kebutuhan dan semua pohon enau telah terkuliti, ijuk diangkut ke Mambal menggunakan mobil truk untuk diproses lebih lanjut.</p> <p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pengerajin Ijuk 2.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align: justify;">   Terdapat beberapa tahapan dalam persiapan pembuatan atap bangunan menggunakan ijuk. Proses diawali dengan membersihkan lidi ijuk secara individual untuk memperoleh ijuk yang lentur, kemudian diurai (dibesbes) guna mencegah saling menempel. Pekerjaan ini umumnya dilakukan oleh wanita dan pria dewasa. Untuk proses mesbes ijuk, diperlukan sangket yang ditancapkan di tanah, ijuk digantung, lalu ditarik helai per helai agar terpisah. Mesbes ijuk merupakan pekerjaan dasar yang harus dikerjakan dengan tekun untuk menghasilkan kualitas yang baik. Sisa ijuk yang tidak dapat diurai (besbes) dapat dimanfaatkan sebagai dasar atap (pengeresek). Ijuk yang digunakan untuk pengeresek ini adalah ijuk yang kasar, kaku, serta sisa potongan ijuk yang tersedia.</p> <p style="text-align: justify;">   Setelah ijuk terurai dengan baik, dilanjutkan dengan pembuatan ikatan (ngiket) untuk raab, dan gulungan untuk pemugbug. Ngiket adalah proses menjalin ijuk pada dua bilah bambu yang dijejer memanjang, diikat kencang menggunakan tali ijuk. Bentuk ikatan ini biasanya memiliki panjang antara 2 hingga 3 meter, dengan ketebalan bervariasi sesuai permintaan konsumen. Pembuatan ikatan dapat dikerjakan oleh semua tukang atap, tanpa memerlukan keahlian khusus. Untuk mengikat wajib menggunakan tali ijuk, tidak diperbolehkan menggunakan tali bambu maupun tali plastik agar kualitasnya terjaga. Proses pembuatan tali ijuk dikerjakan oleh individu yang memiliki keahlian khusus dengan cara memilin ijuk secara perlahan dan menyambungnya memanjang sesuai kebutuhan. Pembuatan tali ijuk ini umumnya dikerjakan oleh pihak eksternal dan dapat dibeli dalam bentuk gulungan.</p> <p style="text-align: justify;">   Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan atap ijuk meliputi bambu yang digunakan untuk membuat ikatan yang disebut tinjeh dan pacek. Bambu petung dengan batang tebal digunakan untuk membuat tinjeh, sedangkan bambu tewel dengan batang yang kuat dan tebal digunakan untuk membuat pacek. Proses pembuatan tinjeh umumnya dikerjakan oleh pihak lain yang memiliki spesialisasi dalam pengerjaan tersebut, kemudian diserahkan kepada pemborong sesuai dengan permintaan.</p> <p style="text-align: justify;"><img height="100px" src="https://desamambal.badungkab.go.id/storage/desamambal/image/Pengerajin Ijuk 1.jpg" weigth="100px" /></p> <p style="text-align: justify;">   Segala persiapan yang diperlukan telah diselesaikan, dilanjutkan dengan proses pemasangan atap pada struktur bangunan yang telah tersedia. Bangunan yang menggunakan atap ijuk didesain dengan anyaman bedeg yang dipasang di atas iga-iga. Bedeg ini terbuat dari kulit bambu yang dianyam secara padat dan rapat. Fungsi anyaman ini, selain sebagai dasar pemasangan atap, juga turut meningkatkan nilai artistik bangunan jika dilihat dari bawah.</p> <p style="text-align: justify;">   Langkah pertama dalam pembuatan atap ijuk adalah pemasangan pengeresek, yaitu lapisan dasar ikatan menggunakan ijuk yang kasar dan kaku. Tujuan penggunaan pengeresek ini adalah untuk mencapai ketebalan atap yang optimal serta mencegah kebocoran. Pemasangan pengeresek harus dilakukan secara merata dan tanpa celah agar atap tidak bocor. Setelah pengeresek terpasang merata di seluruh bidang, dilanjutkan dengan pemasangan ikatan. Ikatan ini dipasang satu per satu dari bawah ke atas. Proses pemasangan ikatan melibatkan dua orang di atas atap dan satu orang di bawah sebagai penunjuk ikatan ke atas. Ikatan yang telah berada di atas diambil oleh dua pekerja, kemudian dipaku dengan bambu. Untuk mendapatkan atap yang tebal, pemasangan ikatan harus rapat dan tidak boleh longgar.</p> <p style="text-align: justify;">   Setelah semua ikatan terpasang, dilanjutkan dengan pemasangan pemugbug menggunakan gulungan ijuk yang telah disiapkan. Pemasangan pemugbug ini dilakukan dari sudut paling bawah ke atas. Sebelum pemugbug dipasang, di bawahnya juga harus dipasang pengeresek untuk mencapai ketebalan dan mencegah kebocoran. Pemasangan pemugbug dibuat cembung meninggi agar bangunan tampak agung dan megah. Setelah pemugbug terpasang pada keempat sudut, dilanjutkan dengan pemotongan ikatan ijuk yang menjuntai ke bawah. Sebelum melakukan pemotongan, ikatan ijuk dan pemugbug disisir dengan sapu agar hasilnya terlihat rapi. Pemotongan ijuk ini menggunakan talenan kayu yang dipegang dengan tangan kiri dan dipotong dengan catok. Pekerjaan pemotongan ikatan ini merupakan yang paling berat, memerlukan tenaga yang kuat untuk dapat menghadap ke atas dalam waktu lama. Kualitas akhir atap ijuk sangat ditentukan oleh kerapian hasil pemotongan ini. Proses terakhir adalah penyemprotan dengan cairan lem putih yang bertujuan untuk merapikan atap dan meningkatkan kekuatan ijuk.</p> <p style="text-align: justify;">   Selain proses transmisi pengetahuan tersebut, terdapat pantangan yang sangat terkait dengan konsep spiritualitas, dimana para pengrajin meyakini bahwa integritas pekerjaan mereka bergantung pada kebersihan diri dan ketaatan terhadap tradisi. Sebagai contoh, jika terjadi kematian di desa, para pengrajin tidak berani bekerja karena merasa dalam keadaan “kotor” (cuntaka) dan tidak layak membuat atap untuk tempat suci. Keyakinan ini menunjukkan adanya hubungan antara pekerjaan dan spiritualitas, di mana kejujuran dan komitmen terhadap tradisi dianggap memberikan nilai magis (taksu) yang tak tergantikan pada hasil karya mereka. Akibatnya, durasi pengerjaan suatu proyek seringkali menjadi lebih lama, karena pengrajin harus menunggu hingga periode cuntaka selesai.</p> <p style="text-align: justify;">   Fenomena ini kemudian mendorong adanya respons sosial-budaya yang adaptif. Masyarakat desa, berkoordinasi dengan para tokoh griya, melakukan revisi terhadap tahapan ritual kematian (ngaben). Tujuannya adalah untuk mempersingkat periode kekotoran (cuntaka) yang mengikat, sehingga masyarakat dapat lebih cepat kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Revisi ini mencerminkan dinamika adaptasi masyarakat terhadap perubahan sosial dan ekonomi. Tradisi tidak dihilangkan, melainkan disesuaikan melalui musyawarah dengan pemuka agama, untuk mencapai keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan spiritual dan tuntutan ekonomi sehari-hari. Dengan demikian, Desa Umahanyar berhasil mempertahankan identitas kulturalnya sambil berinovasi dalam menghadapi tantangan hidup.</p> <p style="text-align: justify;">   Terkait dengan revisi terhadap tahapan ritual kematian (ngaben), maka menjadikan pelaksanaan upacara ngaben di Desa Umahanyar memiliki kekhasan tersendiri. Rangkaian upacara tidak hanya berhenti pada tahap pembakaran jenazah (pembakaran simbolis atau nyata dari tubuh jasad), tetapi dilanjutkan hingga ke tahap upacara ngangsel, suatu prosesi lanjutan yang melewati upacara ngeroras. Upacara ngangsel ini memiliki makna yang sangat penting dalam konteks pemurnian secara niskala. Tujuan utama dari tahapan ini adalah untuk mempercepat hilangnya kondisi cuntaka atau ketidakmurnian yang secara adat melekat pada keluarga yang ditinggalkan setelah kematian anggota keluarga. Dengan segera melaksanakan hingga tahap ngangsel, diharapkan keluarga yang ditinggal dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk kembali bekerja atau menjalankan aktivitas sosial dengan kondisi yang bersih secara spiritual dan diterima kembali dalam lingkup adat dan masyarakat.</p> <p style="text-align: justify;">   Secara filosofis, tahapan ngangsel ini mencerminkan pandangan masyarakat Umahanyar tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara dunia sekala (nyata) dan niskala (spiritual). Kesucian tidak hanya dianggap sebagai kondisi batin, tetapi juga sebagai prasyarat untuk kembali berinteraksi dengan lingkungan sosial. Dengan menyegerakan pembersihan cuntaka melalui ritual ngangsel, masyarakat menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap keseimbangan spiritual dan tanggung jawab sosial. Ini adalah bentuk nyata dari nilai Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, bahkan dalam siklus kematian.</p> <p style="text-align: justify;">   Selain dikenal sebagai pengrajin atap ijuk, terdapat indikasi bahwa masyarakat Desa Umahanyar pada masa lalu juga memiliki keterlibatan dalam profesi tradisional undagi (arsitek adat Bali) dan sangging (seniman ukir atau pemahat). Dugaan ini diperkuat oleh penemuan sebuah catatan lontar bertuliskan “tanpa guru” yang ditemukan saat proses renovasi Pura Kahyangan Tiga. Frasa tersebut mengandung makna bahwa proses pembangunan pura kemungkinan besar dilakukan tanpa bimbingan formal dari instruktur atau ahli luar desa. Oleh karena itu, muncul hipotesis bahwa keterampilan teknis pembuatan pura diwariskan atau direkonstruksi secara mandiri oleh para leluhur Umahanyar, kemungkinan besar melalui praktik observasi dan reproduksi ingatan kolektif.</p> <p style="text-align: justify;">   Fenomena ini menunjukkan adanya kapasitas internal dalam mentransmisikan pengetahuan teknis secara organik, sekaligus menegaskan potensi lokal dalam bidang konstruksi tradisional dan seni pahat. Dalam kerangka agensi komunitas, hal tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk otonomi budaya dan kemampuan adaptasi dalam menjaga warisan arsitektur sakral Bali, meski tanpa akses ke sistem pendidikan formal. Fakta ini membuka ruang kajian lebih lanjut mengenai sistem pewarisan keterampilan di desa-desa adat serta peran ingatan sosial dalam mempertahankan tradisi material secara lintas generasi.</p>
27 Oct 2025