Kesenian Desa Adat Mambal
<p style="text-align: justify;">   Salah satu kesenian yang pernah berkembang pesat dan menjadi kebanggaan masyarakat Desa Adat Mambal adalah kesenian arja. Di masa kejayaannya, arja ini dikenal melalui sebuah grup seni yang cukup ternama, yaitu Grup Arja Cupak Mambal. Pendirian grup ini dipelopori oleh Bapak Wayan Sentana, seorang tokoh seni yang tinggal di sebelah barat Pura Desa. Beliau dikenal sebagai sosok yang berperan besar dalam menghidupkan seni pertunjukan.</p> <p style="text-align: justify;">   Nama “Cupak” diambil dari salah satu tokoh dalam cerita rakyat Bali yang jenaka dan penuh daya tarik, mencerminkan karakter pertunjukan arja itu sendiri yang menyentuh berbagai lapisan emosi dari lucu, romantis, hingga heroik. Menurut Bapak Wayan Sudana, grup ini tidak hanya tampil di lingkungan desa, tetapi juga diundang tampil di berbagai desa lain di wilayah Badung dan sekitarnya. Bahkan sempat mengikuti pertunjukan tingkat kabupaten yang memperkuat eksistensinya sebagai salah satu grup arja unggulan.</p> <p style="text-align: justify;">   Puncak kejayaan grup ini diperkirakan terjadi pada tahun 1967, di mana pertunjukan arja ini menjadi daya tarik besar bagi masyarakat dan selalu dinanti-nanti dalam setiap odalan atau acara adat. Anggota grup terdiri dari seniman lokal berbagai usia, yang sebagian besar mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk berlatih dan tampil tanpa pamrih, semata-mata karena kecintaan terhadap seni.</p> <p style="text-align: justify;">   Seiring berjalannya waktu, memasuki era 1980-an, Grup Arja Cupak Mambal mulai mengalami kemunduran, yang perlahan-lahan membawa kesenian ini ke ambang kepunahan. Faktor-faktor seperti berkurangnya regenerasi seniman muda, pergeseran minat generasi muda terhadap hiburan modern, serta semakin jarangnya permintaan tampil dalam kegiatan adat menjadi penyebab utama meredupnya keberlangsungan grup ini.</p> <p style="text-align: justify;">   Tanpa adanya pembinaan yang berkelanjutan, perlahan anggota-anggota grup pun mulai berkurang aktivitasnya, dan akhirnya kesenian arja di Mambal tidak lagi. Meskipun grup ini telah lama tidak aktif, beberapa seniman arja legendaris dari masa itu masih hidup hingga kini.</p> <p style="text-align: justify;">   Meskipun dalam kondisi yang sudah uzur dan tidak lagi terlibat dalam pertunjukan. Meskipun kesenian arja saat ini tidak aktif lagi, namun Banjar Adat Mambal Kelodan masih memiliki sebuah warisan budaya yang sangat langka dan bernilai tinggi, yakni sebuah barung gamelan Gong Gede yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Gong Gede tersebut disimpan di Pura Demung. Salah satu aspek yang membuat Gong Gede ini begitu istimewa adalah kondisi fisiknya yang berwarna kuning keemasan, sebuah ciri khas yang menandakan kesakralannya. Namun seiring waktu, gong ini mulai menunjukkan tanda-tanda usia, seperti retakan halus pada permukaannya.</p> <p style="text-align: justify;">   Terkait keretakan halus pada permukaan gong, upaya untuk memperbaikinya tidak serta-merta dilakukan. Bahkan, menurut keterangan Bapak Wayan Sudana para pande gamelan dari Desa Tihingan, Klungkung tidak berani menyentuh atau memperbaiki gong tersebut, karena diyakini memiliki energi spiritual yang sangat kuat dan tidak sembarangan bisa disentuh atau dimodifikasi.</p> <p style="text-align: justify;">   Konon, gong tersebut akan mengeluarkan bunyi dengan sendirinya apabila tidak diberikan sesajen pada waktu-waktu tertentu, seperti saat Kajeng Kliwon, Purnama, dan Tilem. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan energi dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dihaturkan sesajen khusus seperti tipat gong dampulan, yang dipercaya mampu meredam sekaligus menghormati kekuatan yang bersemayam dalam gong tersebut.</p> <p style="text-align: justify;">   Gong Gede ini hanya dibunyikan dalam momen-momen sakral dan sangat terbatas, khususnya saat petoyan di Pura Demung, yaitu saat Ida Bhatara nyejer atau hadir secara spiritual dalam rangkaian upacara besar. Ketika gong ini dibunyikan, seluruh anggota sekaa gong (kelompok penabuh gamelan) memiliki kewajiban mutlak untuk hadir, tanpa terkecuali.</p> <p style="text-align: justify;">    Ada pula sebuah kidung sakral yang dahulu hanya boleh dinyanyikan saat petoyan di Pura Dalem Cungkub. Kidung ini tidak pernah ditulis, namun hanya diwariskan secara lisan. Uniknya, saat ini justru kidung tersebut dinyanyikan di tempat lain, sementara di Pura Dalem Cungkub sendiri tidak dinyanyikan lagi. Kondisi ini memperlihatkan pergeseran budaya sakral dalam masyarakat Desa Adat Mambal.</p> <p style="text-align: justify;">   Menurut keterangan Bapak I Made Cana selaku Bendesa Adat Mambal saat ini, geliat seni di Desa Adat Mambal mulai menunjukkan perkembangan yang menjanjikan dengan tumbuhnya beberapa komunitas seni yang fokus pada bidang tabuh (karawitan) dan tari Bali. Inisiatif ini banyak dipelopori oleh kalangan muda, salah satunya adalah keluarga seniman yang dimotori oleh Budastra dan Sinta, keduanya merupakan alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.</p> <p style="text-align: justify;">   Keluarga ini memiliki garis keturunan seniman yang kuat, yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sosok sentral yang menjadi tonggak awal lahirnya sanggar seni di lingkungan mereka adalah almarhum I Wayan Gabra, kakek dari Sinta, yang dikenal sebagai penggagas berdirinya sanggar tari dan tabuh tradisional. Dedikasinya terhadap seni tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga membentuk fondasi kuat yang kini terus dilanjutkan oleh keturunannya.</p> <p style="text-align: justify;">   Di lingkungan sanggar ini terdapat berbagai jenis perangkat gamelan tradisional, antara lain gender wayang, gong kebyar, angklung, serta gamelan selonding, baik yang berukuran besar maupun kecil. Gamelan selonding, yang secara khusus hanya dimiliki oleh Jero Mangku Panti, merupakan salah satu gamelan kuno yang memiliki nilai spiritual tinggi dan hanya dimiliki oleh kelompok atau keluarga tertentu. Para penabuh dari gamelan-gamelan tersebut, baik gong maupun selonding secara eksklusif berasal dari keluarga Sinta. Mereka sering diminta untuk ngayah dalam berbagai piodalan di pura, upacara pernikahan, potong gigi (metatah), dan upacara besar lainnya di desa.</p> <p style="text-align: justify;">   Setiap banjar tempekan di Desa Adat Mambal memiliki sekaa gong. Desa Adat Mambal yang terdiri dari enam tempekan, di mana tiga tempekan yang berada di Banjar Adat Mambal Kelodan seluruhnya telah memiliki sekaa gong. Sementara itu, di Banjar Adat Mambal Kajanan, hanya dua tempekan yang memiliki sekaa gong, yaitu Tempekan Gumasih dan Tempekan Mambal Kajanan. Adapun Tempekan Trijata belum memiliki sekaa gong, meskipun terdapat gong namun keberadaannya bukan untuk sekaa, melainkan dimiliki oleh pasemetonan Gusti (Arya Wangaya Batan Jeruk).</p>
13 Oct 2025