Administrasi Dan Profesi Masyarakat
<p style="text-align: justify;">   Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk di Desa Mambal terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan ini kemudian membentuk pembagian administratif dan adat yang lebih terstruktur. Saat ini Desa Adat Mambal terbagi menjadi dua Banjar Adat utama, yaitu Banjar Adat Mambal Kajanan dan Banjar Adat Mambal Kelodan. Masing-masing Banjar memiliki sub unit sosial yang disebut tempekan, yang berfungsi sebagai satuan komunitas yang lebih kecil dalam sistem adat Bali.</p> <p style="text-align: justify;">   Banjar Adat Mambal Kajanan terdiri dari tiga tempekan, yaitu Tempekan Gumasih, Tempekan Trijata, dan Tempekan Mambal Kajanan. Ketiga tempekan ini sebagian besar dihuni oleh warga yang berasal dari luar, seperti Wangaya dan Denpasar, yang menetap di wilayah Mambal akibat perkembangan permukiman dan perubahan struktur sosial.</p> <p style="text-align: justify;">   Sementara itu, Banjar Adat Mambal Kelodan juga memiliki tiga tempekan, yakni Tempekan Agung, Tempekan Undagi, dan Tempekan Lebah Sari. Berbeda dengan Kajanan, wilayah Kelodan merupakan pusat pemukiman asli keturunan I Gusti Ngurah Mambal. Bahkan seluruh pura utama Desa Adat Mambal pun terletak di wilayah Kelodan, menegaskan statusnya sebagai pusat spiritual dan budaya desa.</p> <p style="text-align: justify;">   Khusus di Banjar Adat Mambal Kelodan, telah muncul inisiatif dari perangkat desa untuk memperkuat identitas adat dan kelembagaan masing-masing tempekan. Pihak desa telah melakukan audiensi resmi ke Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dengan tujuan mengusulkan perubahan status tempekan menjadi Banjar Adat yang mandiri. Langkah ini mencerminkan semangat masyarakat dalam menjaga kelestarian struktur sosial tradisional sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan perkembangan zaman.</p> <p style="text-align: justify;">   Masyarakat Desa Adat Mambal berprofesi sebagai petani, pedagang, peternak skala kecil, undagi, PNS, dan pariwisata. Masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang memasarkan berbagai kebutuhan sehari-hari maupun produk lokal di pasar Mambal. Masyarakat yang beternak dalam skala kecil, biasanya dilakukan di lingkungan rumah dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Masyarakat yang bekerja di bidang pariwisata sebagian besar menjadi pemandu wisata, penyedia jasa akomodasi, maupun pelaku usaha pendukung sektor ini.</p> <p style="text-align: justify;">   Sementara yang berprofesi sebagai petani adalah sebagian besar masyarakat Desa Adat Mambal, khususnya yang berdomisili di wilayah Banjar Adat Mambal Kelodan. Profesi ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan utama, tetapi juga melekat erat dengan nilai-nilai kearifan lokal dan filosofi hidup yang menjunjung tinggi keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Hasil pertanian tidak hanya digunakan untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga, tetapi juga berperan penting dalam mendukung berbagai upacara adat dan keagamaan, seperti piodalan, ngaben, dan odalan desa, di mana hasil bumi dijadikan sebagai sarana persembahan. Selain bertani, terdapat pula sejumlah warga yang menekuni profesi sebagai undagi, yakni ahli bangunan tradisional Bali yang memiliki keahlian khusus dalam merancang dan membangun rumah adat, pura, dan struktur arsitektural lainnya berdasarkan pakem lontar serta prinsip kesucian ruang. Keberadaan para undagi ini sangat menonjol, terutama di wilayah Tempekan Undagi, yang merupakan salah satu sub unit dari Banjar Adat Mambal Kelodan.</p> <p style="text-align: justify;">   Diperkirakan, karena dominasi profesi undagi di wilayah tersebut, maka nama “Tempekan Undagi” disematkan sebagai penanda identitas sekaligus bentuk penghormatan terhadap keahlian warganya. Nama ini dapat menunjukkan peran sosial dalam masyarakat, juga menegaskan kontribusi penting para undagi dalam pelestarian warisan arsitektur Bali yang sakral dan penuh filosofi. Para undagi dari Tempekan Undagi sering dilibatkan dalam pembangunan maupun renovasi pura-pura setempat, serta dipercaya dalam mengerjakan bangunan yang memerlukan ketepatan tata ruang spiritual.</p>
13 Oct 2025